Kamis, 14 Mei 2015

Laporan Audit Pemasaran



BAB I
INFORMASI LATAR BELAKANG

PT. ABC (selanjutnya disebut “Perusahaan”) berlokasi di Jl. ARAH No. 22 Depok Jawa Barat, didirikan tanggal 20 Juni 2009 dan terdaftar pada tanggal 21 Juli 2010 oleh para pendiri yang terdiri dari :
1.      Tn. I
2.      Tn. M
Visi perusahaan adalah untuk menjadi franchise minuman kopi blended siap saji no. 1 di Indonesia dengan investasi yang terjangkau. Misi perusahaan adalah untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dengan berfokus pada produk, sistem dan pelayanan yang berkualitas dengan budaya K-O-P-I, yakni Kreatif, Orientasi kualitas, Produktif, dan Inovatif. Dengan motto yang dianut perusahaan yakni “peluang bisnis yang low maintenance dan low investment, tapi high style dan high profit”.

Susunan organisasi Perusahaan adalah sebagai berikut :
Pemilik/Founder         : Tn. I
Manager                    : Tn. R
Kabag Pemasaran      : Tn. Im
Kabag Gudang           : Tn. L
Kabag Produksi         : Tn. Ih

Sedangkan tujuan dilakukannya audit adalah untuk  :
1.  Menilai bagaimana perusahaan melaksanakan setiap program/aktivitas pemasaran untuk mencapai tujuannya melalui pengelolaan sumber daya yang ekonomis dan efisien.
2.      Menilai bagaimana kebijakan produk, kebijakan penetapan harga, kebijakan distribusi, serta kebijakan promosi dan publikasi yang diterapkan perusahaan.
3.      Memberikan berbagai saran perbaikan atas kelemahan Fungsi Pemasaran yang ditemukan.


BAB II
KESIMPULAN AUDIT

Berdasarkan temuan (bukti) yang kami peroleh selama audit yang kami lakukan, kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Kondisi
1)   Pemasaran perusahaan tidak menyesuaikan tujuan dengan perubahan kondisi.
2)   Perusahaan tidak memiliki prosedur perencanaan pasar secara tertulis.
3) Perusahaan tidak menggunakan prediksi pasar yang komprehensif dalam menyusun rencana pemasarannya.
4)   Perusahaan tidak mengendalikan aktivitas pemasarannya melalui analisis biaya, analisis pasar, dan audit pemasaran.
5)  Manajemen tidak mengetahui tentang elastisitas permintaan harga, pengaruh kurva pengalaman, kebijakan penetapan harga pesaing.
6)   Perusahaan tidak melakukan evaluasi secara periodik terhadap anggota salurannya.
7)   Perusahaan tidak mengevaluasi secara periodik metode pengiriman produknya.
8)   Anggaran promosi penjualan tidak memadai.
9)   Perusahaan tidak memiliki tujuan periklanan dengan tegas.
10)    Program periklanan tidak berjalan secara efisien.

  1. Kriteria
1)   Perusahaan harus beradaptasi dengan terjadinya perubahan kondisi bisnis. Perusahaan dapat beradaptasi dengan perubahan kondisi apabila memiliki prosedur perencanaan pasar secara tertulis. Dengan prosedur perencanaan pasar menghasilkan rencana yang tepat sesuai dengan strategi pencapaian tujuan perusahaan
2)    Perusahaan juga harus menggunakan prediksi pasar yang komprehensif dalam menyusun rencana pemasarannya, mengendalikan aktivitas pemasarannya melalui analisis biaya, analisis pasar, dan audit pemasaran
3)  Manajemen mengetahui tentang elastisitas permintaan harga, pengaruh kurva pengalaman, kebijakan penetapan harga pesaing untuk mengetahui bagaimana pengaruh informasi tersebut terhadap keputusan harga produk.
4)  Perusahaan secara periodic melakukan evaluasi terhadap anggota salurannya,  metode pengiriman produknya sehingga hasil evaluasi ini digunakan sebagai umpan balik dalam pengambilan keputusan distribusi dan metode pengiriman pada periode berikutnya.
5)      Anggaran promosi penjualan memadai sehingga terjadi kesesuaiaan anggaran promosi dengan kebutuhan tujuan pemasaran.  Perusahaan juga harus memiliki tujuan periklanan yang dinyatakan dengan tegas agar program periklanan telah berjalan secara efisien.

  1. Penyebab
1)      Perusahaan hanya melakukan review secara garis besar (umum) atas pengendalian manajemen. Belum dilakukan upaya review secara komprehensif dan sistematik terhadap aktivitas pemasaran perusahaan.untuk mencapai tujuannya melalui pengelolaan sumber daya yang ekonomis dan efisien.
2)      Perusahaan menetapkan strategi pemasaran yang menawarkan bisnis minuman kopi blended dengan harga terjangkau, unggul di kualitas dan cita rasa sesuai dengan lingkungan pemasaran yang dihadapi dan perusahaan intensitas pesaingnya. Perusahaan hanya bersaing di segmen pasar menengah kebawah hingga menengah.
3)      Keterbatasan yang secara internal dihadapi perusahaan adalah minimnya SDM yang dimiliki perusahaan yang memiliki pengetahuan tentang bidang pemasaran atau berlatar belakang pendidikan tinggi.

  1. Akibat
1)    Perusahaan menjadi pilihan untuk berbisnis franchisee minuman kopi blanded siap saji hanya untuk kalangan menegah kebawah sampai menengah., tidak ada rencana kerja pasti yang menjadi patokan. Sehingga pendapatan dari para mitra kerjanya tidak stabil setiap bulan, hanya beberapa daerah pemasaran yang pembelian bahan bakunya tergolong stabil, tidak ada patokan khusus atau analisis khusus yang dilakukan oleh perusahaan dalam upaya mengendalikan aktivitas pemasarannya.
2)     Tidak ada informasi yang akurat yang dapat digunakan perusahaan untuk membuat keputusan harga produk.
3)  Perusahaan hanya melihat dari pembelian kembali produknya dan mengevaluasi metode pengiriman apabila ada kendala yang dihadapi, tidak mengevaluasi secara periodik.
4)    Tidak ada biaya tambahan untuk promosi dan anggaran promosi belum memadai, belum ada panduan periklanan yang dinyatakan secara jelas, dan tidak berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan.

  1. Pejabat yang bertanggung jawab : Manager dan Kabag Pemasaran.



Daftar Ringkasan Temuan Audit


No.
Kondisi
Kriteria
Penyebab
Akibat
1.
Pemasaran perusahaan tidak menyesuaikan tujuan dengan perubahan kondisi.
Perusahaan beradaptasi dengan terjadinya perubahan kondisi bisnis.
Perusahaan tetap dengan tujuan awalnya yakni menjadi franchise minuman kopi blanded no. 1 di Indonesia.
Perusahaan menjadi pilihan untuk berbisnis franchisee minuman kopi blanded siap saji hanya untuk kalangan menegah kebawah sampai menengah.
2.
Perusahaan tidak memiliki prosedur perencanaan pasar secara tertulis.
Dengan prosedur perencanaan pasar menghasilkan rencana yang tepat sesuai dengan strategi pencapaian tujuan perusahaan.
Manajemen hanya berpatokan pada bagaimana pasar berkembang, melihat bagaimana sikap dari pesaingnya, dan menyesuaikan dengan selera konsumen yang dinamis.
Tidak ada rencana kerja pasti yang menjadi patokan. Sehingga pendapatan dari para mitra kerjanya tidak stabil setiap bulan.
3.
Perusahaan tidak menggunakan prediksi pasar yang komprehensif dalam menyusun rencana pemasarannya.
Prediksi pasar dihasilkan dari metode yang tepat dan disusun berdasarkan informasi prediksi pasar yang realistis.
Prediksi pasar yang dilaksanakan oleh perusahaan hanya sebatas daerah mana yang bisa dijadikan basis pemasarannya.
Hanya beberapa daerah pemasaran yang pembelian bahan bakunya tergolong stabil.
4.
Perusahaan tidak mengendalikan aktivitas pemasarannya melalui analisis biaya, analisis pasar, dan audit pemasaran.
Perusahaan melakukan salah satu audit pemasaran secara vertikal atau horizontal.
SDM yang dimiliki perusahaan tidak mengetahui analisis biaya.
Tidak ada patokan khusus atau analisis khusus yang dilakukan oleh perusahaan dalam upaya mengendalikan aktivitas pemasarannya.
5.
Manajemen tidak mengetahui tentang elastisitas permintaan harga, pengaruh kurva pengalaman, kebijakan penetapan harga pesaing.
Elastisitas permintaan harga, pengaruh kurva pengalaman, kebijakan penetapan harga pesaing adalah informasi untuk membuat keputusan harga produk.
Manajemen tidak mengetahui tentang elastisitas permintaan harga, pengaruh kurva pengalaman, maupun kebijakan penetapan harga pesaing.
Tidak ada informasi yang akurat yang dapat digunakan perusahaan untuk membuat keputusan harga produk.
6.
Perusahaan tidak melakukan evaluasi secara periodik terhadap anggota salurannya.
Hasil evaluasi perusahaan yang secara periodik digunakan sebagai umpan balik dalam pengambilan keputusan distribusi pada periode berikutnya.
Tidak ada jadwal periodik untuk menilai franchiseenya karena tidak ada Supporting Fee yang diberikan.
Perusahaan hanya melihat dari pembelian kembali produknya.
7.
Perusahaan tidak mengevaluasi secara periodik metode pengiriman produknya.
Hasil evaluasi perusahaan yang secara periodik digunakan sebagai umpan balik dalam pengambilan keputusan pengiriman pada periode berikutnya.
Tidak ada jadwal periodik untuk menilai metode pengiriman yang digunakan.
Perusahaan hanya mengevaluasi apabila ada kendala yang dihadapi.
8.
Anggaran promosi penjualan tidak memadai.
Perusahaan menyediakan anggaran untuk promosi, sehingga sesuai dengan kebutuhan tujuan pemasaran.
Perusahaan jarang mengikuti event-event khusus untuk mempromosikan produknya.
Tidak ada biaya tambahan untuk promosi.
9.
Perusahaan tidak memiliki tujuan periklanan dengan tegas.
Dengan adanya tujuan periklanan yang dinyatakan dengan tegas dapat mendukung pencapaian tujuan pemasaran perusahaan.
Perusahaan lebih banyak melakukan promosi secara umum.
Belum ada panduan periklanan yang dinyatakan secara jelas.
10.
Program periklanan tidak berjalan secara efisien.
Beban periklanan dengan kegiatan pemasaran yang seharusnya dijalankan secara efisien.
Perusahaan tidak memiliki anggaran promosi yang pasti.
Tidak berpengaruh langsung terhadap laba perusahaan.





BAB III
REKOMENDASI

Hasil audit yang dilakukan menemukan beberapa kelemahan yang harus menjadi perhatian manajememn dimasa yang akan datang. Kelemahan ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
  1. Kelemahan yang terjadi pada pengendalian manajemen yang dilakukan perusahaan.
  2. Kelemahan yang ditimbulkan akibat minimnya SDM yang dimiliki perusahaan yang memiliki pengetahuan tentang bidang pemasaran atau berlatar belakang pendidikan tinggi.

Atas keseluruhan kelemahan yang terjadi, maka diberikan rekomendasi sebagai koreksi atau langkah perbaikan yang bisa diambil manajemen untuk memperbaiki kelemahan tersebut.

Rekomendasi :
1.  Struktur organisasi perusahaan yang sederhana mempermudah manajemen untuk mangambil kebijakan dalam fungsi pemasarannya. Namun disayangkan, kemudahan itu tidak didukung dengan prosedur perencanaan pasar yang jelas tertulis. Manajemen hanya berpatokan pada bagaimana pasar berkembang, melihat bagaimana sikap dari pesaingnya, dan menyesuaikan dengan selera konsumen yang dinamis. Sebaiknya manajemen mulai membuat prosedur perencanaan pasar yang tertulis sehingga perusahaan memiliki rencana kerja pemasaran yang jelas selama satu periode.
2.      Hal lainnya yang menjadi perhatian adalah latar belakang pendidikan SDM yang bekerja di bagian pemasaran. Memang, salah satu visi dari perusahaan adalah untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Tapi sebagai bahan pertimbangan perusahaan, mungkin dengan ditambahnya tenaga kerja profesional yang menguasai ilmu pemasaran, bisa lebih mendukung pencapaian tujuan pemasaran perusahaan.
3.      Perusahaan perlu lebih banyak mengadakan aksi-aksi sosial yang berhubungan dengan masyarakat. Karena selain berfungsi sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, tapi bisa juga sebagai sarana promosi brand perusahaan. Perusahaan juga lebih baik bukan hanya menyebutkan saja kegiatan sosialnya, tapi juga menceritakannya.
4.  Perusahaan perlu melakukan penilaian frachisee-nya, metode pengiriman, dan kinerja saluran distribusinya secara periodik. Hal ini dimaksudkan agar perusahaan mempunyai informasi kinerja mengenai frachisee-nya, metode pengiriman, dan kinerja saluran distribusi. Meskipun keputusan untuk melakukan pembelian kembali bukan berada di perusahaan, tapi dengan adanya informasi tersebut akan mempermudah manajemen dalam membuat keputusan mengenai rekan kerjanya.



BAB IV
RUANG LINGKUP  AUDIT

Sesuai dengan penugasan yang kami terima, audit yang kami lakukan hanya meliputi masalah Fungsi Pemasaran PT. ABC. Audit kami mencakup penilaian atas kebijakan produk, kebijakan penetapan harga, kebijakan distribusi, serta kebijakan promosi dan publikasi yang diterapkan perusahaan.
 





Minggu, 12 April 2015

Artikel Bulan Ke 2

Adjectives

Definition
Adjectives are words that describe or modify another person or thing in the sentence. The Articles — a, an, and the — are adjectives.
the tall professor
the lugubrious lieutenant
a solid commitment
a month's pay
a six-year-old child
the unhappiest, richest man
If a group of words containing a subject and verb acts as an adjective, it is called an Adjective Clause. My sister, who is much older than I am, is an engineer. If an adjective clause is stripped of its subject and verb, the resulting modifier becomes an Adjective Phrase : He is the man who is keeping my family in the poorhouse.
Before getting into other usage considerations, one general note about the use — or over-use — of adjectives: Adjectives are frail; don't ask them to do more work than they should. Let your broad-shouldered verbs and nouns do the hard work of description. Be particularly cautious in your use of adjectives that don't have much to say in the first place: interesting, beautiful, lovely, exciting. It is your job as a writer to create beauty and excitement and interest, and when you simply insist on its presence without showing it to your reader — well, you're convincing no one.
Consider the uses of modifiers in this adjectivally rich paragraph from Thomas Wolfe's Look Homeward, Angel. (Charles Scribner's, 1929, p. 69.) Adjectives are highlighted in this color; participles, verb forms acting as adjectives, are highlighted in this blue. Some people would argue that words that are part of a name — like "East India Tea House — are not really adjectival and that possessive nouns — father's, farmer's — are not technically adjectives, but we've included them in our analysis of Wolfe's text.
He remembered yet the East India Tea House at the Fair, the sandalwood, the turbans, and the robes, the cool interior and the smell of India tea; and he had felt now the nostalgic thrill of dew-wet mornings in Spring, the cherry scent, the cool clarion earth, the wet loaminess of the garden, the pungent breakfast smells and the floating snow of blossoms. He knew the inchoate sharp excitement of hot dandelions in young earth; in July, of watermelons bedded in sweet hay, inside a farmer's covered wagon; of cantaloupe and crated peaches; and the scent of orange rind, bitter-sweet, before a fire of coals. He knew the good male smell of his father's sitting-room; of the smooth worn leather sofa, with the gaping horse-hair rent; of the blistered varnished wood upon the hearth; of the heated calf-skin bindings; of the flat moist plug of apple tobacco, stuck with a red flag; of wood-smoke and burnt leaves in October; of the brown tired autumn earth; of honey-suckle at night; of warm nasturtiums, of a clean ruddy farmer who comes weekly with printed butter, eggs, and milk; of fat limp underdone bacon and of coffee; of a bakery-oven in the wind; of large deep-hued stringbeans smoking-hot and seasoned well with salt and butter; of a room of old pine boards in which books and carpets have been stored, long closed; of Concord grapes in their long white baskets.
An abundance of adjectives like this would be uncommon in contemporary prose. Whether we have lost something or not is left up to you.

Sumber : http://grammar.ccc.commnet.edu/grammar/adjectives.htm

Tugas Softskill Bulan Ke Dua

EXERCISE 26 PAGE 107
Well
Intense
Brightly
Fluent
Fluently
Smooth
Accurately
Bitter
Soon
Fast

EXERCISE 27 PAGE 109
Terrible
Well
Good
Calmly
Sick
Quickly
Diligently
Vehemently
Relaxedly
Noisy

EXERCISE 28 PAGE 114
As soon as
More important than
The same well as
More expensive than
The same hot as
More talented than
More colorful than
More happy than
Less bad than
Faster than

EXERCISE 29 PAGE 114
Than
As
From
Than
Than
Than
As
Than
Than
Than

EXERCISE 30 PAGE 117
Best
Happier
Faster
Creamiest
More colorful
Better
Good
More awkwardly
Least
Prettiest
The best
Than
Less impressive
The sicker
When
Twice as much as
Few
Many
Farthest
More Famous

EXERCISE 31 PAGE 118
Twelve stories
Languages
Three acts
Two days
79 pieces
Five shelves
16 ounces
Six quarts
Bricks
Ten speeds

EXERCISE 32 PAGE 120
Enough people
French enough
Enough time
Fast enough
Soon enough
Early enough
Hard enough
Slowly enough
Enough flour
Enough books

Rabu, 08 April 2015

APA ITU LESS CASH SOCIETY?

APA ITU LESS CASH SOCIETY?

Less cash society secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai masyarakat yang semakin sedikit memanfaatkan uang tunai dalam transaksi sehari-hari. Bank Indonesia sebagai bank central sejak bertahun-tahun lalu berupaya mengarahkan agar masyarakat semakin terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai. Bertransaksi tanpa uang tunai dapata dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti memanfaatkan uang elektronik, kartu kredit, kartu debit, maupun transfer.
Teknologi yang semakin berkembang memungkinkan transfer dana dapat dilakukan dengan berbagai medium; internet banking, phone banking, sms banking, maupun ATM. Semua dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyaman penggunanya.
Semakin banyaknya pilihan dan semakin mudahnya bertransaksi secara non tunai diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk mencoba bertransaksi tanpa melibatkan uang tunai. Pada tahap selanjutnya, jika sudah berkali-kali mencoba, maka akan terbiasa.
Mengapa harusberalih dari transaksi tunai ke non tunai? Sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, manfaat transaksi non tunai adalah lebih efisien, aman, dan transparan karena semua tercatat.
Di negara-negara maju, transaksi non tunai telah menjadi bagian dari gaya hidup warganya. Baik transaksi dalam nominal besar ataupun kecil, mereka telah terbiasa menggunakan teknologi sistem pembayaran tanpa uang tunai. Membeli kopi hingga membelimobil, semuanya dilakukan tanpa menggunakan uang tunai.
Sebaliknya, di negara-negara berkembang, pemanfaatan transaksi non tunai masih belum terlalu familiar. Masyarakat masih merasa lebih nyaman bertransaksi menggunakan uang tunai karena terlihat secara fisik.
Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi serta edukasi yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia yang bekerja sama dengan berbagai pihak, diharapkan masyarakat akan semakin mengenal transaksi non tunai dan mulai memanfaatkannya.
Ketika semua telah terbiasa menggunakan transaksi non tunai, akankah uang tunai akan lenyap? Tentu saja tidak. Dalam berbagai kesempatan, keberadaan uang tunai masih akan tetap diperlukan. Hanya saja, porsinya akan semakin mengecil.